Latar Belakang di Dirikan Yayasan

Latar Belakang di Dirikan Yayasan

Sebagaimana hamba Allah Swt yang beragama Islam dengan latar belakang sebagai pendidik berstatus PNS, sejak Januari 1997 hingga Januari 2015, pekerja sosial-kemasyarakatan, mantan jurnalis dan anggota DPRD Kota Yogyakarta, saat ini menjadi dosen di FKIP UST, menggeluti dunia Teater Pendidikan untuk Anak, Remaja, dan Masyarakat Dewasa, yang dilakoninya sejak 1986 hingga saat sekarang (sebagai pimp, penulis scenario, dan sutradara, Teater SANI Yogyakarta), Manager Produksi Bintang Mataram bernama Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA (Guru Besar ISI), Moerti Poernomo alm (Bintang film tiga zaman), Drs. Daru Maheldaswara (Budayawan Nasional), dan Masroom Bara alm (Aktivis Seni Peran), juga telah berkarya ilmiah tentang “Pencapaian Keselarasan Wanita dalam Organisasi Sosial dan Keluarga (Magister), tentang “Penanaman Nilai-Nilai Dasar Humanis Religius bagi Anak Usia Dini Keluarga Perkotaan (Doktor), semakin merasa sangat-sangat sedih dan prihatin menghadapi realitas sosial yang ada, utamanya realitas karakter/perilaku anak, remaja, dan sebagian besar orang dewasa di masyarakat.

Bangsa Indonsia saat sekarang berkecenderungan mengikuti arus pergeseran nilai-nilai, dan norma-norma yang menjauhi dari koridor agama “Islam” serta budaya luhur Bangsa Timur. Meskipun nilai dan norma agama Islam semakin gencar disosialisasikan dan ditanamkan kepada anak dan remaja, secara umum aplikasinya dalam perilaku masyarakat belum semuanya seperti yang diharapkan. Sedangkan hakikat anak dan remaja adalah asset masa depan bangsa Indonesia, secara umum, dan secara khusus modal dasar Generasi Emas Indonesia tahun 2045.

Kualitas akhlak, perilaku, dan keterampilan hidup bagi generasi Indonesia mendatang harus dibangun sejak sekarang, karena akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang memiliki kedudukan sangat penting. Akhlak merpakan hasil dari proses aplikasi aqidah dan syariah. Nabi Muhammad Saw, dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Berbagai usaha mendidik akhlak, moral, perilaku, dan keterampilan hidup bagi manusia telah banyak dilakukan, karena hal tersebut sejalan dengan (QS.al-Lail (92):4), yang artinya: “Sesungguhnya usaha kamu hai manusia, pasti amat beragam”. Meski semakin banyak usaha memperbaiki kualitas akhlak manusia telah dilakukan, dalam kenyataan masih banyak anak cenderung tidak berakhlak mulia, remaja berperilaku tidak benar, antara lain tawuran/seks bebas. Orang dewasa banyak yang akhlaknya rusak dalam wujud secara sadar melakukan kejahatan, semisal pejabat Negara yang seharusnya menjadi pagar APBN, APBD, tetapi secara serakah makan tanaman, melakukan korupsi, dan sebagainya.

Menghadapi carut-marut zaman dan resiko kehancuran sumber daya manusia Indonesia dari dimensi psikis dan sosial, kehadiran sebuah yayasan yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial-budaya, kemanusia, dan dapat menjadi pusat pelatihan keterampilan hidup, serta mampu memproduksi karya bermuatan pendidikan masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin mengkawatirkan. Orang dewasa sebagian besar bersikap, berucap, dan perilaku tidak patut diteladani oleh anakdan bergelut malawan pengaruh negatif era global.

Kita semua, secara pribadi atau bersama-sama tidak boleh tinggal diam. Rasa peduli saja tidak cukup, ini adalah panggilan kemanusiaan untuk berbuat secara nyata, produktif, dan bernilai ibadah, yakni membantu sesame agar dapat bersama-sama selamat dunia akhirat.

Berdasar latar belakang tersebut di atas, maka sebuah yayasan yang mampu berperan dalam idang sosial keagamaan, pendidikan akhlak, moral, mental-spiritual, intelektual, sosial-budaya, dalam wujud tindakan konkret untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membantu membangun keterampilan hidup bagi anak bangsa, mendesak didirikan dan mendesak dapat beroperasi secara nyata.

Linn, https://pro-homework-help.com/ the education division director of the group’s center for best practices.

No comments.